English French German Spain Italian

Dutch Russian Japanese Arabic Chinese Simplified
Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Maret 2011

Prabu Siliwangi Dimakamkan di Nusa Larang

Nusa Gede, sebuah pulau yang terletak di tengah-tengah Situ Lengkong Panjalu, kurang lebih 30 km sebelah utara Kota Ciamis. Disebut Nusa Gede karena luasnya 16,25 ha. Situ Lengkong sendiri luasnya 57,95 ha.

Sejak tanggal 21 Februari 1919 Nusa Gede oleh pemerintah Belanda dijadikan cagar alam. Sekarang pengelolaan hutan lindung Nusa Gede dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDK) Jawa Barat. Terdapat 30 jenis tumbuhan, diantaranya Ki Bima, Ki Sapu, Caringin dan Picung Celeng.
Nusa Gede juga terkenal dengan sebutan Nusa Larang yang pada saat-saat tertentu dipakai untuk membersihkan benda-benda pusaka, yang oleh penduduk Panjalu disebut Nyangku.

Di Nusa Larang atau Nusa Gede terdapat sebuah makam yang selalu didatangi penjiarah dari Jawa Barat, Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Rombongan perjalanan ini biasanya satu paket dengan jiarah ke Cirebon dan Pamijahan Kabupaten Tasikmalaya.

Masyarakat Panjalu menyebut makam tersebut adalah makam Mbah Panjalu. Yang di dalam cerita Babad Panjalu bernama Hariang Kancana, orang kepercayaan Borosngora. Berdasarkan informasi KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur) bernama Syaid Ali bin Muhammad bin Umar, berasal dari Samudera Pasai (Aceh), yang ada keterkaitannya dengan Kerajaan Panjalu di Jawa Timur.

Sementara itu Prof. Dr. Ayatrohaedi, menyatakan bahwa yang dimakamkan di Nusa Larang adalah Prabu Niskala Wastukancana, raja Sunda-Galuh (1371-1475) yang pusat pemerintahannya terletak di Kawali. Dalam naskah cerita Parahyangan peninggalan abad ke-16 diceritakan Prabu Wastukancana dimakamkan di Nusa Larang Gunung Wanakusumah.

Ayatrohaedi menegaskan Hariang Kancana adalah Wastukancana, sedangkan Borosngora adalah Bunisora, paman dari Wastukancana. Sementara Nusa Larang adalah Nusa Gede yang berada di Situ Lengkong. Di wilayah Kawali tidak ada lagi situ/danau yang berdekatan dengan situs Astana Gede.

Bedasarkan beberapa sumber sejarah, Prabu Wastukancana diidentikan dengan Prabu Siliwangi hal ini mengandung arti bahwa makam yang berada di Nusa Gede atau Nusa Larang adalah makam Prabu Siliwangi. Berdasarkan penafsiran ilmu kebatinan, tidak sedikit yang menerangkan orang yang dimakamkan di Nusa Larang tersebut adalah Prabu Wastukancana atau Prabu Siliwangi.
(Sumber : NS, BB-Galura).

Kamis, 10 Maret 2011

Dipati Imbanagara, Tewas oleh Utusan Mataram

Kalau kita ke Ciamis, akan melewati suatu daerah yang namanya Imbanagara. Disana terdapat sebuah bangunan kecil dengan tulisan Musium Imbanagara. Imbanagara sebenarnya bukan nama tempat, tetapi nama seorang adipati yang memimpin Garatengah. Menurut sumber sejarah yang terdapat di Musium Imbanagara, Garatengah adalah salah satu kerajaan di daerah Galuh Gawahan Kerajaan Sunda.

Pada waktu Kerajaan Sunda runtuh (1579). Garatengah menjadi kerajaan yang mandiri. Tidak menjadi bagian dari Sumedang Larang yang dianggap sebagai ahli waris Kerajaan Sunda. Namun selanjutnya Garatengah menjadi daerah kekuasaan Mataram.

Garatengah menjadi daerah keadipatian (kabupaten), dengan adipati yang pertama adalah Panaekan, yang memiliki nama asli Ujang Ngoko, putra Raja Garatengah Prabu Di Galuh Ciptapermana. Namun Panaekan tidak lama menjadi adipati. Panaekan tewas oleh Dipati Kertabumi di sebabkan perbedaan paham dalam melaksanakan perintah Sultan Agung.

Setelah Panaekan tewas, adipati Garatengah digantikan oleh putranya yang bernama Ujang Purba. Setelah menjadi adipati (1625) terkenal dengan nama Imbanagara. Imbanagara diberi tugas oleh Sultan Agung untuk membawa prajurit Garatengah ke Batavia membantu prajurit Dipati Ukur.

Pasukan Garatengah dipimpin oleh Bagus Saputra. Namun Dipati Ukur bersama pasukan bantuan tidak mampu menaklukan Kompeni (Belanda). Prajurit Mataram tidak berani pulang kembali ke Kertasura, mereka takut dihukum mati oleh Sultan Agung. Malahan selanjutnya Dipati Ukur berontak kepada Mataram.

Pemberontakan Dipati Ukur dapat dilumpuhkan pada tahun 1624. Sebagai balas jasa Sultan Agung mendirikan kabupaten baru, yaitu Bandung. Sukapura (Tasikmalaya) serta Parakanmuncang. Di wilayah Sunda pada waktu itu terdapat 12 kabupaten termasuk Imbanagara yang asalnya bernama Garatengah.

Runtuhnya pasukan Dipati Ukur, bukan berarti wilayah Tatar Galuh jadi tentara menyebar berita bahwa Dipati Imbanagara adalah sahabat dan melakukan kerjasama dengan Dipati Ukur. Buktinya waktu Dipati Ukur dikejar pasukan Mataram, Dipati Imbanagara tidak ikut mencari malah menugaskan Bagus Saputra beserta pasukannya.

Berita tersebut akhirnya sampai juga ke Mataram, Sultan Agung mengutus bawahanya untuk menemui Dipati Imbanagara. Utusan tersebut menyampaikan perintah bahwa Sultan Agung meminta upeti dari Garatengah yaitu tujuh putri cantik yang masih perawan.

Permintaan Sultan Agung dipenuhi oleh Dipati Imbanagara. Pada tahun 1635, diawali dengan upacara kenegaraan, 7(tujuh) putri dari Galuh berangkat ke Mataram, dengan pengawalan pasukan Garatengah. Selesai menyerahkan upeti tujuh putri cantik pasukan Garatengah pun kembali ke Galuh.

Selang beberapa minggu, datang utusan dari Mataram yang dipimpin oleh Tarumanegara Narapaksa, meminta Dipati Imbanagara harus datang ke Kertabumi untuk menemui Adipati Kertabumi. Pada saat itu juga Dipati Imbanagara berangkat ke Kertabumi bersama utusan dari Mataram.

Ditengah perjalanan, didaerah Bolenglang sekarang sekitar pabrik minyak kelapa Gwan Hien di Desa Kertasari, kecamatan Ciamis. Pasukan Mataram dengan senjata lengkap menghadang Dipati Imbanagara. Bahkan ada yang membawa senjata keris diatas (baki/nampan) pemberiaan Sultan Agung. Ini pertanda ada yang harus dihukum mati. Sementara itu utusan Mataram terus bergabung dengan pasukan Mataram.

Utusan tersebut mempertegas perintah Sultan Agung agar Dipati Imbanagara dihukum mati, dengan cara dipenggal kepalanya. Alasannya karena Dipati Imbanagara sudah berlaku sopan terhadap Sultan Agung. Salah satu dari putri cantik yang merupakan upeti Garatengah keMataram ternyata sudah tidak perawan. Dipati Imbanagara tidak diberi kesempatan untuk menanyakan bagaimana duduk perkaranya.

Pada kalimat terakhirnya Dipati Imbanagara mengatakan bahwa beliau tidak punya kekuasaan untuk menolak perintah raja, tetapi sampaikan kepada yang memberi perintah, kalau suatu saat nanti terbukti bersalah, seluruh keturunan Dipai Imbanagara jangan ada yang memegang keadipatian. Setelah selesai mengeluarkan kata-kata terakhirnya, Dipati Imbanagara dibunuh dengan cara dipenggal lehernya.

Tubuhnya dimakamkan tidak jauh dari tempat Dipati Imbanagara dihukum mati sekarang Pemakaman Gelembung. Sedangkan kepalanya dibawa ke Mataram. Sementara itu di Garatengah tersebar berita bahwa Dipati Imbanagara sudah tewas dihukum mati utusan Mataram tanpa kejelasan apa kesalahannya.

Terbakarlah api dendam pasukan/prajurit Garatengah puluhan prajurit menyusul utusan Mataram. Orang-orang Garatengah berhasil menyusul utusan Mataram di sungai Citanduy pada saat sedang menyebrang. Utusan Mataram dihujani anak panah, mereka tidak bisa melawan, Narapaksa bersama bawahannya kabur menyelamatakan diri. Sementara kepala Dipati Imbanagara terjatuh ke sungai Citanduy. Tanpa dapat ditemukan lagi.

Kematian Dipati Imbanagara tidak jauh beda dengan kematian orang tuanya Adipati Panaekan, karena pengaruh kekejaman Sultan Agung terhadap jajahannya. (Sumber: Galura)

 
Great HTML Templates from easytemplates.com.